RSS

Arsip Kategori: Hikmah Dibalik Suatu Kejadian

Sampingan

Menyingkap hikmah dibalik tirai kelahiran bayi

Segala peristiwa selalu mengandung hikmah. Mengapa ? Karena Alloh Yang Maha Menggenggam setiap kejadian, tidak akan pernah sekalipun menakdirkan setiap kejadian yang terjadi sia-sia, kecuali untuk dijadikan pelajaran.

Dalam hal ini Alloh SWT berfirman, “Alloh memberikan hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal” (Q.S. 2 : 269). Keyakinan yang kuat akan hal tersebut insya Alloh mampu meningkatkan tekad kita untuk belajar dari siapapun, kapanpun dan dimanapun. Termasuk peristiwa kelahiran seorang jabang bayi ke alam dunia dari rahim seorang ibu. Lahirnya seorang bayi ke dunia, dapat diibaratkan hikmah di dalam kamar yang tertutup tirai. Pengen tau apa saja hikmah dibalik ‘kamar’ tersebut ? Yuk…kita bersama-sama membuka tirai tersebut !

Persaingan
” Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat” (Q.S. 76:2)

Awal proses kejadian seorang manusia terjadi di dalam rahim sang ibu.Yakni ketika satu sel spermatozoa berhasil membuahi sel telur. Menurut ilmu biologi, sel spermatozoa yang menyerbu sel telur itu berjumlah jutaan, namun yang membuahinya hanya satu, tidak kurang tidak lebih. Itulah kita ! Kita tercipta berasal dari ‘bibit’ (sel) yang paling unggul. Padahal tentu saja Alloh tidak bermaksud sia-sia menciptakan berjuta-juta sel spermatozoa kalau hanya untuk tidak memberikan manfaat.

Hikmahnya adalah permulaan kehidupan kita di dunia diawali oleh persaingan. Artinya bekal pertama kita adalah potensi bersaing. Potensi inilah yang akan digunakan untuk mengarungi kehidupan ini. Begitulah, dalam kehidupan ini persaingan memang harus terjadi dan hanya yang paling unggullah yang akan keluar jadi pemenang. Jadi tidak pada tempatnya jikalau ada manusia yang takut persaingan sehingga putus asa dan tidak optimis dalam menerjang badai kehidupan. Karena pada hakekatnya persaingan dan menjadi yang terbaik adalah fitrah manusia. Kesimpulannya hidup di dunia dapat dibaratkan sebuah perlombaan yang penuh persaingan. Bersaing dalam hal apa ? Ingatlah akan firman Alloh Azza wa’Zalla dalam surat Al baqarah ayat 148, ” .. maka berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan”.

Jaminan Rejeki
Setelah sel telur dibuahi, maka mulai tumbuhlah organ tubuh manusia. Dan pada usia janin tiga bulan, Alloh meniupkan roh. Organ tubuh yang mulai terbentuk belum dapat digunakan untuk mencari rejeki. Meski demikian bayi dapat bertahan hidup (bernafas dan makan) dikarenakan adanya tali ari. Ini adalah sebuah pelajaran, bahwa sejak awal rejeki kita telah disiapkan Alloh. Jadi kita tak perlu risau dengan rejeki. Demi Alloh, telah dijamin. Masalahnya sekarang adalah sudahkah kita berusaha menjemput rejeki kita dengan cara dan jalan yang mulia. Rejeki yang halal datang dari Alloh, rejeki dengan cara licik pun berasal dari Alloh. Kalau halal dan licik sama-sama dari Alloh mengapa harus dengan cara yang licik ? Sesungguhnya Alloh Dialah Maha Pemberi Rejeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh. (51:58)

Dunia adalah sebuah ketidakabadian
Bila seorang ibu mengandung dua janin kembar. Pada saat sebelum dilahirkan, janin tersebut telah memiliki potensi berupa peralatan bernafas dan makan, namun potensi tersebut belum berfungsi. Potensi yang dimiliki baru akan berfungsi saat memasuki alam dunia.

Saat salah seorang bayi terlahir lebih dulu di dunia ini, janin yang tinggal di rahim akan mengganggap saudaranya telah wafat. Setelah itu dia akan menyusul saudara kembarnya ke alam dunia. Setiap bayi yang lahir kedunia akan tumbuh dan berkembang jika peralatan bernafas dan makannya tidak mengalami kerusakan. Sedangkan bayi yang lahir prematur (peralatannya ada yang rusak) akan mengalami kesulitan. Ini adalah sebuah renungan untuk persiapan menuju akherat kelak. Di dunia ini kita diberikan potensi untuk bekal akherat nanti. Bedanya jika di alam rahim potensi itu tumbuh tanpa usaha kita, maka di dunia ini ditumbuhkan melalui usaha kita. Potensi itu adalah jiwa kita.

Pada saat maut menjemput, saudara kita yang ditinggalkan akan berkata bahwa kita meninggal dunia. Mereka yang terlahir diakherat dalam keadaan prematur, akan mengalami kesulitan. Tapi bagi yang berhasil menumbuhkan jiwanya, akan menemukan kemudahan dan kebahagiaan yang abadi. Dan bila akan dibandingkan keluasan alam rahim (perut ibu) dengan alam dunia ini luasnya tidak terkirakan. Alam akherat pun lebih luas dari alam dunia. Ayat ttg akherat dan dunia (perumpamaan)

Kasih Sayang
Telah banyak kisah yang menceritakan pengorbanan seorang ibu tatkala melahirkan buah hatinya. Bayangkan..! Selama kurang lebih 7-9 bulan, kemana-mana membawa kita dalam perutnya. Tak jarang, perut ibu kita ditendang-tendang oleh janin. Namun pernahkah kita mendengar seorang ibu hamil mengeluh ? Semua bisa terjadi karena adanya kasih sayang. Kasih sayang ibu jugalah, saat melahirkan rela mengorbankan nyawanya, demi sang anak. Padahal belum tentu setelah besar nanti anak tersebut akan berbakti pada ibunya.

Ini dapat menjadi vitamin hati sekaligus pelajaran. Vitamin untuk mengingatkan dan memperbaiki akhlak kita kepada ibu. Apapun, bagaimanapun kondisi ibu kita, dia tetap ibu kita, tak layak bagi seorang muslim durhaka kepada ibunya. Adapun pelajaran lainnya adalah Alloh mengajarkan kasih sayang kepada kita dalam menghadapi hidup ini melalui ibu kita. (Ayat ttg kasih sayang…)

Renungan
Seorang ahli hikmah, menulis dalam kata-kata hikmahnya : “Kedatangan kita di dunia, begitu keluar dari rahim ibunda, disambut senyum riang, bahkan gelak tawa. Semua orang, terutama sanak saudara, bergembira ria; sedangkan kita menangis menjerit-jerit. Apakah kelak, ketika kita meninggalkan dunia, keadaan akan tetap sama. Orang lain terbahak-bahak mengiringi kepergiaan kita. Mereka senang karena ketiadaan kita. Mereka bebas dari kekejian dan kezaliman yang kita kerjakan selama hidup; sedangkan kita sendiri menangis, pedih pilu karena tak punya amal kebaikan untuk bekal di akherat dan takut menghadapi azab Alloh. Alangkah baiknya apabila keadaan terbalik seratus delapan puluh derajat: ketika mati, senyum tersungging di bibir kita, karena optimis dengan amal kebajikan yang kita kerjakan tatkala hidup akan menjadi modal menempuh alam kekal yang penuh rahmat dan ampunan Alloh; sedangkan orang lain meratapi kepergian kita dan kebaikan kita.” Wallahu’alam

Menyingkap hikm…

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 27, 2012 in Hikmah Dibalik Suatu Kejadian