RSS

LATIFATUL SIRRI (Maqam Tingkat 3)

05 Apr

Image

Maqam ini adalah maqam ketiga dalam kajian Thariqat An-Naqsyabandi jika seseorang mendalami pelajaran dzikir dalam ajaran tasawwuf atau sufi, maka jika seseorang telah berdzikir pada maqam sebelumnya, maka pada tempat inilah dzikir kepada Allah Swt yang ketiga di sandarkan, dengan makna dan maksudnya adalah untuk pengobatan pembersihan rohani secara bertahap dan berbagai tingkatan pembersihan penyakit bathin.

Pembersihan penyakit bathin di sini ialah mengobati seluruh penyakit bathin yang buruk pada diri manusia secara bertahap, jika seseorang hamba ingin menuju kepada khalikNya, sudah tentu penyakit bathin harus di obati terlebih dahulu, sebab jika seseorang hamba yang menuju kepada tuhannya tetapi masih ada penyakit bathinnya maka tiada akan dapat sampai (ma’rifat) kepada tuhannya, sebab Allah Swt adalah dzat yang Maha Suci.

Sifat buruk pada bathin manusia di wilayah ini adalah pemarah, pembengis, mudah emosi tinggi, penaik darah dan pendendam, yang mendalanginya yaitu iblis dan syetan, pada bathin manusia, para iblis dan syetan di bidang penyakit ini, rumah atau istananya adalah pada hati jasmani manusia, yang senantiasa selalu membisikkan berbagai tipu daya dan hasut agar manusia selalu dalam kemaksiatan di bidang pemarah, pembengis, mudah emosi tinggi, penaik darah dan pendendam, untuk menumpas keberadaan syetan ini maka lazimkanlah dzikrullah pada wilayah ini dengan senjata kalimah Allah…Allah…Allah…, dengan harapan para iblis dan syetan dapat keluar dari rumah atau istananya tersebut dari dalam diri manusia, jika sudah demikian maka tentu sifat tersebut sudah jauh berkurang bahkan hilang sama sekali dari dalam diri bathinnya tersebut, yang tinggal hanyalah kalimah Allah saja yang menempatinya, hal demikianlah merupakan pintu dasar ketiga menuju dan mendekatkan diri kepada Allah Swt serta dapat mengenalnya.

Maqam ketiga dari cara berdzikirnya seorang hamba untuk mengobati penyakit bathin ini adalah di sebut dengan LATIFATUL SIRRI dengan pengertian yang di jabarkan dan di ajarkan dzikirnya sebagai berikut :

Maqam ini berhubungan dengan hati pada jasmani manusia, kira – kira dua jari di atas susu kiri, jumlah dzikirnya dalam sehari semalam sekurang – kurangnya 1000 kali di lakukan secara rutin dan istiqamah, ini adalah wilayahnya Nabi Musa , bercahaya putih dan asalnya dari angin, maqam ini tempatnya sifat madzmumah pada manusia di jurusan :

  1. Pemarah,
  2. Pembengis,
  3. Mudah emosi tinggi,
  4. Penaik darah dan,
  5. Pendendam.

Jadi sudah seharusnya kita berdzikir di tempat ini untuk menghilangkan sifat buruk tersebut dari bathin kita, nah, jika ikhlas dzikirnya pada tempat ini maka akan bergantilah sifat buruk tadi menjadi sifat yang terpuji, seperti :

  1. Pengasih,
  2. Penyayang,
  3. Baik budi pekerti (akhlak yang mulia).

Sifat buruk ini di katakan sama seperti sifat binatang buas yang suka berbuat onar, kekejaman, penganiayaan, penindasan, permusuhan dan pendzaliman sesama, dan penebar fitnah, sebagai madzmudahnya (baik) adalah manakala lenyap sifat buruk di atas akan berganti dengan sifat keinsanan yang mendekati kepada kesempurnaan akhlak, terutama sifat rahman dan rahim, ini di katakan adalah sunnah dan thariqatnya Nabi Musa.

Puncak hasil daripada maqam ini adalah fanafisifattisubutiah (fana akan sifat yang baik) dan mati sirri, mati sirri artinya segala sifat keinsanan menjadi lenyap dan berganti dengan fana, demikian juga dengan alam yang wujud ini menjadi lenyap dan di telan oleh alam ghaib, alam malakul yang penuh dengan nur illahi, mendapatkan karunia dari Allah Swt akan perasaan mati sirri ini adalah dengan bergelimangnya akan baqa finurillah, yaitu nur af’al Allah Swt, nur asma Allah Swt, nur zat Allah Swt dan nurran ‘ala nurrin, cahaya di atas cahaya Allah Swt, di mana Allah Swt memberikan karunia itu kepada siapa saja yang dia kehendaki.

Pendengaran dan penglihatan lahir menjadi hilang lenyap, yang tinggal hanyalah pendengaran bathin dan penglihatan bathin yang memancarkan nur illahi, yang terbit dari dalam hati yang dapat memancarkan ilham dari Allah Swt, ini merupakan hasil mujahadahnya dan merupakan rahmat dan karunia dari Allah Swt jika ikhlas dzikirnya.

Jika seseorang hamba tiada mau berdzikir pada wilayah ini, maka menurut kajian tasawwuf sangatlah susah untuk membuat seseorang hamba dapat sampai dan mengenal akan tuhannya, sebab dengan sifat buruk di atas, maka seseorang manusia akan selalu mengikuti akan petunjuk atau bisikan iblis dan syetan, sifat ini merupakan sifat yang di benci Allah Swt serta hanya ada pada iblis dan syetan juga pada orang yang tidak beriman.

Untuk hal yang demikianlah maka oleh para guru tasawwuf sangat menekankan pengobatan penyakit bathin ini, jika ingin menjadi manusia yang beraqidah akhlak yang baik serta mendapat keridhaan dariNya, jika seseorang hamba betul – betul ikhlas dan rajin berdzikir pada wilayah ini dan beristiqamah, maka insya Allah Swt terbukalah rahasia gaib akan kebenaran dengan izin dan kehendakNya, dia mendapatkan ilham dan karunia daripadaNya, dan ini di katakan sunnah dan cara dzikirnya Nabi Musa, sebab hanya dengan akal dan pikiran bathin yang bersihlah yang dapat menerima karunia, taufik, hidayah dan ilham dari Allah Swt, hal demikianlah yang merupakan nur illahi terbit dari hati orang yang berdzikir, sehingga hatinya muhadharah (hadir) bersama Allah Swt.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 5, 2012 in Tasawuf

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: