RSS

Arsip Bulanan: April 2012

Jangan Hancurkan Dirimu

ImageSahabatku bolehkah aku bercerita, semoga saja ceritaku ini bermanfaat dan bisa menjadi bahan renungan buat kalian para sahabatku yang sangat aku banggakan. Beginilah kira-kira ceritanya.

 Suatu ketika, ada seorang sahabat memulai khotbahnya dengan mengeluarkan selembar uang seratus ribu yang baru. Kemudian dia bertanya “Siapa di antara kamu yang mau uang ini, jika diberikan ikhlas padamu?” Langsung saja yang mengangkat tangan banyak sekali.

Katanya lagi ” Ya, ini akan saya berikan, tapi sebelumnya biar saya melakukan hal ini”. Sahabat tersebut meremas uang kertas seratus ribu itu, menjadi gulungan kecil yang kumal. Kemudian dia buka lagi ke bentuk semula : lembaran seratus ribu, tapi sudah kumal sekali. Lalu dia bertanya ” Siapa yang masih mau uang ini?” Tetap saja banyak yang angkat tangan, sebanyak yang tadi. “Oke, akan saya kasih, tapi biarkan saya melakukan hal ini”. Dia menjatuhkan lembaran uang itu ke lantai, terus diinjak-injak pakai sepatunya yang habis berjalan di tanah becek sampai nggak karuan bentuknya. Dia tanya lagi” siapa yang masih mau?”

Tangan-tangan masih saja terangkat. Masih sebanyak tadi. “Nah, sahabatku, sebenarnya aku dan kau sudah mengambil satu nilai yang sangat berharga dari peristiwa tadi. Kita semua masih mau uang ini walau bentuknya sudah nggak karuan lagi. Sudah jelek, kotor, kumal. Tapi nilainya nggak berkurang: tetap seratus ribu rupiah.

Sama seperti kita. Walau kau tengah jatuh, tertimpa tangga pula. Tengah sakit, tengah hancur pula, atau kau gagal, nggak berdaya, terhimpit, dan merasa terhina, kecewa dan terkhianati, atau dalam keadaan apapun, kau tetap nggak kehilangan nilaimu.

Karena kau begitu berharga. Jangan biarkan kekecewaan, perasaan, ketakutan, sakit hati, menghancurkan kamu, harapanmu, atau cita-citamu.” “Kamu akan selalu tetap berharga, bagi dirimu, bagi diriku, bagi sahabatmu, bagi sahabat yang lain dan kau tetap sama dimata Tuhanmu.

 Dia, Tuhanmu, akan berlari mendekatimu, jika kau berjalan menuju-Nya. Aku pun sahabatmu akan melakukan hal yang sama, karena fithrah setiap diri kita akan mulia jika mencoba mendekati sifat-sifat Tuhan kita. Disanalah nilai dirimu berada.”

Oleh karena itu belajarlah kita menghargai setiap usaha kita, karena itu adalah salah satu bentuk rasa syukur kita kepada Tuhan kita. Hargailah setiap nilai-nilai yang telah kita buat walaupun itu terlampau kecil di mata kita, tapi itulah hasil dari jerih payah kita. Semoga bermanfaat wahai sahabatku. Insyaallah. ^_^

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada April 18, 2012 in Muhasabah

 

LATIFATUL KULLU JASAD (Maqam Tingkat 7)

Image

Maqam ini adalah maqam ketujuh dalam kajian Thariqat An-Naqsyabandi, jika seseorang mendalami pelajaran dzikir dalam ajaran tasawwuf atau sufi, maka jika seseorang telah berdzikir pada maqam sebelumnya, maka pada tempat inilah dzikir kepada Allah Swt yang ketujuh, ini sangat berguna untuk pengobatan pembersihan penyakit rohani secara bertahap dan berbagai tingkatan pembersihan penyakit bathin.

Sifat buruk pada bathin manusia di wilayah ini adalah suka lalai dalam beribadah dan selalu jahil, sifat ini paling dominan di bisiki oleh iblis dan syetan bagi manusia yang sudah cukup mengerti akan agama, akibatnya manusia sering melalaikan ibadah, seperti melalaikan shalat wajib, yang seharusnya bisa di awal waktu malah di tunda pelaksanaannya karena waktu shalat masih panjang, nah ini contoh daripada suka melalaikan ibadah yang dapat menyebabkan nantinya akan meninggalkan shalat tersebut jika hal ini di biarkan berlarut – larut dalam bathin manusia, guna menumpas keberadaan syetan yang suka membisikkan kelalaian, ini maka lazimkanlah dzikrullah pada wilayah ini dengan senjata kalimah Allah…Allah…Allah…, dengan harapan para iblis dan syetan dapat keluar dari rumah atau istananya tersebut dari dalam diri manusia, jika sudah demikian maka tentu sifat tersebut sudah jauh berkurang bahkan hilang sama sekali dari dalam diri bathinnya tersebut, yang tinggal hanyalah kalimah Allah saja yang menempatinya, hal demikianlah merupakan pintu dasar keenam menuju dan mendekatkan diri kepada Allah Swt serta dapat mengenalnya.

Maqam ketujuh dari cara berdzikirnya seorang hamba untuk mengobati penyakit bathin ini adalah di sebut dengan LATHIFATUL KULLU JASAD dengan pengertian yang di jabarkan dan di ajarkan dzikirnya sebagai berikut :

Maqam ini berhubungan dengan seluruh badan atau jasad zahir, berdzikir pada maqam ini dalam sehari semalam sekurang – kurangnya 1.000 kali, ini adalah tempatnya sifat buruk manusia, yaitu :

  1. Jahil
  2. dan lalai

Seseorang yang dzikirnya ikhlas pada tempat ini dapat menimbulkan :

  1. Ilmu
  2. dan amal yang di ridhai oleh Allah Swt.

Dzikir ini di sebut juga dengan dzikir sultan aulia Allah Swt, artinya raja sekalian dzikir dan di jalankan melalui seluruh badan, tulang belulang, kulit, urat dan daging di luar maupun di dalam, di tempat ini dzikir Allah…Allah…Allah pada penjuru anggota badan beserta ruas dari ujung rambut sampai ujung kaki hingga tembus keluar yakni bulu roma pada sekujur tubuh atau badan, agar dapat menghilangkan sifat malas dan lalai dalam beribadah kepada Allah Swt.

Untuk menghantam seluruh sifat malas dan lalai tersebut haruslah di laksanakan dengan sepenuh hati yang ikhlas, menurut kajian pengamal ajaran cara ibadah tasawwuf bahwa iblis dan syetan bisa masuk melalui dan menetap pada seluruh bagian tubuh, karena itu perlu di getar dengan dzikirullah, sehingga dzikirullah menetap di tempat itu dengan sendirinya dan tentu saja tidak ada lagi jalan iblis atau syetan untuk dapat memasuki tubuh zahir dan merasuk kedalam bathin manusia untuk membisikkan segala perbuatan jahat yang tercela di hadapan Allah Swt.

Sifat yang masuk pada maqam ini setelah dzikir tersebut adalah ilmu dan amal yang di ridhai oleh Allah Swt, dia berilmu sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Hadist Rasululllah Saw, hakikat cahaya pada maqam ini adalah nuurus samawi dan di katakan dengan sunnah dan thariqatnya orang alim dan ma’rifat kepada Allah Swt, puncak pada dzikir ini adalah mati hissi yang perupakan pokok dan mendasari dzikir – dzikir yang lain di atasnya, karena itu para pengamal ajaran ini harus mengkhatamkannya sekurang – kurangnya 1.000 sehari semalam.

Dzikir lathaif inilah merupakan senjata paling ampuh untuk mengusir dan membasmi sifat madzmumah yang ada pada 7 (tujuh) lathaif yang di bawahnya, segala sifat madzmumah atau sifat buruk ini di tunggangi oleh iblis dan syetan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 18, 2012 in Tasawuf

 

LATIFATUL NAFSUN NATIKAH (Maqam Tingkat 6)

Image

Maqam ini adalah maqam keenam dalam kajian Thariqat An-Naqsyabandi jika seseorang mendalami pelajaran dzikir dalam ajaran tasawwuf atau sufi, maka jika seseorang telah berdzikir pada maqam sebelumnya, maka pada tempat inilah dzikir kepada Allah Swt yang keenam, maksudnya adalah untuk pengobatan pembersihan penyakit rohani secara bertahap dan berbagai tingkatan pembersihan penyakit bathin.

Sifat buruk pada bathin manusia di wilayah ini adalah suka mengkhayal dan panjang angan – angan, yang di bisiki iblis dan syetan yang kerjanya senantiasa membisikkan berbagai angan – angan agar manusia selalu dalam kemaksiatan, seperti untuk menipu, korupsi dan lain sebagainya, guna menumpas keberadaan syetan ini maka lazimkanlah dzikrullah pada wilayah ini dengan senjata kalimah Allah…Allah…Allah…, dengan harapan para iblis dan syetan dapat keluar dari rumah atau istananya tersebut dari dalam diri manusia, jika sudah demikian maka tentu sifat tersebut sudah jauh berkurang bahkan hilang sama sekali dari dalam diri bathinnya tersebut, yang tinggal hanyalah kalimah Allah saja yang menempatinya, hal demikianlah merupakan pintu dasar keenam menuju dan mendekatkan diri kepada Allah Swt serta dapat mengenalnya.

Maqam keenam dari cara berdzikirnya seorang hamba untuk mengobati penyakit bathin ini adalah di sebut dengan LATHIFATUL NAFSUN NATIKAH dengan pengertian yang di jabarkan dan di ajarkan dzikirnya sebagai berikut :

Maqam ini berhubungan dengan otak jasmani pada manusia dengan wilayah terletak di tengah – tengah dahi, berdzikir pada maqam ini dalam sehari semalam adalah sekurang – kurangnya sebanyak 1000 kali, ini adalah wilayahnya Nabi Nuh As dan bercahaya biru serta tempat sifat buruk pada manusia yaitu khayal dan angan – angan, oleh karena itu kikislah sifat tersebut dengan berdzikir secara ikhlas pada tempat ini, agar berganti dengan sifat muthma’innah, yaitu sifat dan nafsu yang tenang.

Buruknya pada tempat ini adalah selalu panjang angan – angan, banyak khayal dan selalu merencanakan selalu yang jahat untuk memuaskan hawa dan nafsu, sifat baiknya adalah nafsu muthma’innah yaitu sifat yang sakinah, aman, tenteram serta berpikiran yang tenang, ini di katakan dengan sunnah thariqatnya Nabi Nuh As, puncaknya adalah mati hissi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 18, 2012 in Tasawuf

 

LATIFATUL AKHFA (Maqam Tingkat 5)

Image

Maqam ini adalah maqam kelima dalam kajian Thariqat An-Naqsyabandi jika seseorang mendalami pelajaran dzikir dalam ajaran tasawwuf atau sufi, maka jika seseorang telah berdzikir pada maqam sebelumnya, maka pada tempat inilah dzikir kepada Allah Swt yang kelima di laksanakan, dengan makna dan maksudnya adalah untuk pengobatan pembersihan penyakit rohani secara bertahap dan berbagai tingkatan pembersihan penyakit bathin.

Sifat buruk pada bathin manusia di wilayah ini adalah takbur, ria, ujub dan suma’ah, yang mendalanginya yaitu iblis dan syetan, dalam bathin manusia, para iblis dan syetan di bidang penyakit ini, rumah atau istananya adalah pada empedu jasmani manusia, yang kerjanya senantiasa membisikkan berbagai tipu daya dan hasut agar manusia selalu dalam kemaksiatan di bidang takbur, ria, ujub dan suma’ah, untuk menumpas keberadaan syetan ini maka lazimkanlah dzikrullah pada wilayah ini dengan senjata kalimah Allah…Allah…Allah…, dengan harapan para iblis dan syetan dapat keluar dari rumah atau istananya tersebut dari dalam diri manusia, jika sudah demikian maka tentu sifat tersebut sudah jauh berkurang bahkan hilang sama sekali dari dalam diri bathinnya tersebut, yang tinggal hanyalah kalimah Allah saja yang menempatinya, hal demikianlah merupakan pintu dasar ketiga menuju dan mendekatkan diri kepada Allah Swt serta dapat mengenalnya.

Maqam kelima dari cara berdzikirnya seorang hamba untuk mengobati penyakit bathin ini adalah di sebut dengan LATHIFATUL AKHFA dengan pengertian yang di jabarkan dan di ajarkan dzikirnya sebagai berikut :

Berhubungan dengan empedu jasmani dengan letak kira – kira di tengah dada, dzikirnya sekurang – kurangnya dalam sehari semalam adalah 1000 kali, ini merupakan wilayahnya Nabi Muhammad Saw dan bercahaya hijau serta berasal dari tanah, tempat sifat :

  1. Takbur,
  2. Ria,
  3. Ujub,
  4. Suma’ah.

Sifat buruk ini harus kita hilangkan dengan berdzikir pada maqam ini agar dapat berganti dengan sifat :

  1. Tawadduk,
  2. Ikhlas,
  3. Sabar,
  4. Tawakkal.

Sifat segala keakuan seperti sombong, takbur, ria, loba, ujub dan tamak serta bersikap akulah yang terpandai, akulah yang terkaya, akulah yang tergagah, tercantik dan lain sebagainya, maqam ini juga di katakan dengan sifat rububiyah atau rabbaniyah dan hanya pantas bagi Allah Swt, sebab dialah yang pada hakikatnya yang memiliki, mengatur alam semesta ini, sifat baik pada maqam ini di dapatkan jika berdzikir dengan ikhlas adalah khusyu’, tawadduk, tawakkal dan ikhlas sebenar ikhlas, selalu tafakkur akan keagungan Allah Swt dan ini di katakan dengan sunnahnya dan thariqat dzikirnya Nabi Muhammad Saw, hasil puncaknya adalah fana fidzzat, almuhallakah.

Puncak hasil daripada maqam ini adalah fanafisifattisubutiah (fana akan sifat yang baik) dan mati sirri, mati sirri artinya segala sifat keinsanan menjadi lenyap dan berganti dengan fana, demikian juga dengan alam yang wujud ini menjadi lenyap dan di telan oleh alam ghaib, alam malakut yang penuh dengan nur illahi, mendapatkan karunia dari Allah Swt akan perasaan mati sirri ini adalah dengan bergelimangnya akan baqa finurillah, yaitu nur af’al Allah Swt, nur asma Allah Swt, nur zat Allah Swt dan nurran ‘ala nurrin, cahaya di atas cahaya Allah Swt, di mana Allah Swt memberikan karunia itu kepada siapa saja yang dia kehendaki.

Pendengaran dan penglihatan lahir menjadi hilang lenyap, yang tinggal hanyalah pendengaran bathin dan penglihatan bathin yang memancarkan nur illahi, yang terbit dari dalam hati yang dapat memancarkan ilham dari Allah Swt, ini merupakan hasil mujahadahnya dan merupakan rahmat dan karunia dari Allah Swt jika ikhlas dzikirnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 18, 2012 in Tasawuf

 

LATIFATUL KHAFI (Maqam Tingkat 4)

Image

Maqam ini adalah maqam keempat dalam kajian Thariqat An-Naqsyabandi untuk melaksanakan pembersihan penyakit bathin, maka jika seseorang telah berdzikir pada maqam sebelumnya, maka pada tempat inilah pula dzikir kepada Allah Swt yang keempat di lakukan, maksudnya adalah untuk pengobatan penyakit rohani secara bertahap dan berbagai tingkatan pembersihan penyakit bathin atau rohani.

Sifat buruk pada bathin manusia di wilayah ini adalah busuk hati dan munafik yang mana termasuk di dalamnya adalah pendusta, mungkir janji, penghianat dan tidak dapat di percaya, yang di dalangi oleh iblis dan syetan, rumah atau istananya adalah pada limpa jasmani manusia, yang senantiasa selalu membisikkan berbagai tipu daya dan hasut agar manusia selalu dalam kemaksiatan di bidang sifat buruk tersebut, untuk menumpas keberadaan syetan ini maka lazimkanlah dzikrullah pada wilayah ini dengan senjata kalimah Allah…Allah…Allah…, dengan harapan para iblis dan syetan dapat keluar dari rumah atau istananya tersebut dari dalam diri manusia, jika sudah demikian maka tentu sifat tersebut sudah jauh berkurang bahkan hilang sama sekali dari dalam diri bathinnya tersebut, yang tinggal hanyalah kalimah Allah saja yang menempatinya, hal demikianlah merupakan pintu dasar keempat menuju akan kedekatan kepada Allah Swt serta dapat mengenalnya.

Maqam keempat dari cara berdzikirnya seorang hamba untuk mengobati penyakit bathin ini adalah di sebut dengan LATIFATUL KHAFI dengan pengertian yang di jabarkan dan di ajarkan dzikirnya sebagai berikut :

Maqam ini berhubungan dengan limpa jasmani manusia dengan daerah kira – kira dua jari di atas susu kanan, berdzikir pada maqam ini dalam sehari semalam sekurang – kurangnya 1000 kali, ini adalah wilayahnya Nabi Isa As dengan bercahayakan hitam dan berasal dari air.

Ini adalah tempatnya sifat madzmumah pada manusia, seperti :

  1. Busuk hati,
  2. Munafik, dengan kandungan sifat nya yaitu ; pendusta, mungkir janji, penghianat dan tidak dapat di percaya.

Nah, jika ikhlas dzikir pada tempat ini maka hilanglah sifat yang demikian dan berganti dengan sifat yang terpuji, yaitu :

  1. Ridha,
  2. Syukur,
  3. Sabar, dan
  4. Tawakkal.

Madzmumahnya lathifatul khafi ini di katakan dengan sifat syetaniah yang menimbulkan was – was, cemburu, dusta dan sebagainya dan yang sejenis, mahmudahnya adalah sifat syukur dan ridha serta sabar dan tawakkal, ini di katakan dengan sunahnya Nabi Isa As.

Puncaknya adalah fana fissifatissalbiyah dan mati hissi, mati hissi artinya segala sifat keinsanan yang baharu menjadi lenyap atau fana, dan yang tinggal hanyalah sifat ketuhanan yang qadim azali, pada tingkat ini tanjakan bathin seseorang yang berdzikir telah mencapai tingkat yang tinggi, yaitu mulai mengenal akan ma’rifat, pada tingkat ini orang yang berdzikir telah mengalami keadaan yang tidak pernah di lihat oleh mata zahir, tidak pernah di dengar telinga zahir dan tidak pernah terlintas dalam hati sanubari manusia dan tidak mungkin pula bisa di sifati oleh sifat manusia, kecuali yang telah di karuniakan oleh Allah Swt dengan seperti pada jalan tersebut di atas.

Untuk hal yang demikianlah maka oleh para guru tasawwuf sangat menekankan pengobatan penyakit bathin ini, jika ingin menjadi manusia yang beraqidah akhlak yang baik serta mendapat keridhaan dariNya, jika seseorang hamba betul – betul ikhlas dan rajin berdzikir pada wilayah ini dan beristiqamah, maka insya Allah Swt terbukalah rahasia gaib akan kebenaran dengan izin dan kehendakNya, dia mendapatkan ilham dan karunia daripadaNya, dan ini di katakan sunnah dan cara dzikirnya Nabi Isa As, sebab hanya dengan akal dan pikiran bathin yang bersihlah yang dapat menerima karunia, taufik, hidayah dan ilham dari Allah Swt, hal demikianlah yang merupakan nur illahi terbit dari hati orang yang berdzikir, sehingga hatinya muhadharah (hadir) bersama Allah Swt.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 18, 2012 in Tasawuf

 

LATIFATUL SIRRI (Maqam Tingkat 3)

Image

Maqam ini adalah maqam ketiga dalam kajian Thariqat An-Naqsyabandi jika seseorang mendalami pelajaran dzikir dalam ajaran tasawwuf atau sufi, maka jika seseorang telah berdzikir pada maqam sebelumnya, maka pada tempat inilah dzikir kepada Allah Swt yang ketiga di sandarkan, dengan makna dan maksudnya adalah untuk pengobatan pembersihan rohani secara bertahap dan berbagai tingkatan pembersihan penyakit bathin.

Pembersihan penyakit bathin di sini ialah mengobati seluruh penyakit bathin yang buruk pada diri manusia secara bertahap, jika seseorang hamba ingin menuju kepada khalikNya, sudah tentu penyakit bathin harus di obati terlebih dahulu, sebab jika seseorang hamba yang menuju kepada tuhannya tetapi masih ada penyakit bathinnya maka tiada akan dapat sampai (ma’rifat) kepada tuhannya, sebab Allah Swt adalah dzat yang Maha Suci.

Sifat buruk pada bathin manusia di wilayah ini adalah pemarah, pembengis, mudah emosi tinggi, penaik darah dan pendendam, yang mendalanginya yaitu iblis dan syetan, pada bathin manusia, para iblis dan syetan di bidang penyakit ini, rumah atau istananya adalah pada hati jasmani manusia, yang senantiasa selalu membisikkan berbagai tipu daya dan hasut agar manusia selalu dalam kemaksiatan di bidang pemarah, pembengis, mudah emosi tinggi, penaik darah dan pendendam, untuk menumpas keberadaan syetan ini maka lazimkanlah dzikrullah pada wilayah ini dengan senjata kalimah Allah…Allah…Allah…, dengan harapan para iblis dan syetan dapat keluar dari rumah atau istananya tersebut dari dalam diri manusia, jika sudah demikian maka tentu sifat tersebut sudah jauh berkurang bahkan hilang sama sekali dari dalam diri bathinnya tersebut, yang tinggal hanyalah kalimah Allah saja yang menempatinya, hal demikianlah merupakan pintu dasar ketiga menuju dan mendekatkan diri kepada Allah Swt serta dapat mengenalnya.

Maqam ketiga dari cara berdzikirnya seorang hamba untuk mengobati penyakit bathin ini adalah di sebut dengan LATIFATUL SIRRI dengan pengertian yang di jabarkan dan di ajarkan dzikirnya sebagai berikut :

Maqam ini berhubungan dengan hati pada jasmani manusia, kira – kira dua jari di atas susu kiri, jumlah dzikirnya dalam sehari semalam sekurang – kurangnya 1000 kali di lakukan secara rutin dan istiqamah, ini adalah wilayahnya Nabi Musa , bercahaya putih dan asalnya dari angin, maqam ini tempatnya sifat madzmumah pada manusia di jurusan :

  1. Pemarah,
  2. Pembengis,
  3. Mudah emosi tinggi,
  4. Penaik darah dan,
  5. Pendendam.

Jadi sudah seharusnya kita berdzikir di tempat ini untuk menghilangkan sifat buruk tersebut dari bathin kita, nah, jika ikhlas dzikirnya pada tempat ini maka akan bergantilah sifat buruk tadi menjadi sifat yang terpuji, seperti :

  1. Pengasih,
  2. Penyayang,
  3. Baik budi pekerti (akhlak yang mulia).

Sifat buruk ini di katakan sama seperti sifat binatang buas yang suka berbuat onar, kekejaman, penganiayaan, penindasan, permusuhan dan pendzaliman sesama, dan penebar fitnah, sebagai madzmudahnya (baik) adalah manakala lenyap sifat buruk di atas akan berganti dengan sifat keinsanan yang mendekati kepada kesempurnaan akhlak, terutama sifat rahman dan rahim, ini di katakan adalah sunnah dan thariqatnya Nabi Musa.

Puncak hasil daripada maqam ini adalah fanafisifattisubutiah (fana akan sifat yang baik) dan mati sirri, mati sirri artinya segala sifat keinsanan menjadi lenyap dan berganti dengan fana, demikian juga dengan alam yang wujud ini menjadi lenyap dan di telan oleh alam ghaib, alam malakul yang penuh dengan nur illahi, mendapatkan karunia dari Allah Swt akan perasaan mati sirri ini adalah dengan bergelimangnya akan baqa finurillah, yaitu nur af’al Allah Swt, nur asma Allah Swt, nur zat Allah Swt dan nurran ‘ala nurrin, cahaya di atas cahaya Allah Swt, di mana Allah Swt memberikan karunia itu kepada siapa saja yang dia kehendaki.

Pendengaran dan penglihatan lahir menjadi hilang lenyap, yang tinggal hanyalah pendengaran bathin dan penglihatan bathin yang memancarkan nur illahi, yang terbit dari dalam hati yang dapat memancarkan ilham dari Allah Swt, ini merupakan hasil mujahadahnya dan merupakan rahmat dan karunia dari Allah Swt jika ikhlas dzikirnya.

Jika seseorang hamba tiada mau berdzikir pada wilayah ini, maka menurut kajian tasawwuf sangatlah susah untuk membuat seseorang hamba dapat sampai dan mengenal akan tuhannya, sebab dengan sifat buruk di atas, maka seseorang manusia akan selalu mengikuti akan petunjuk atau bisikan iblis dan syetan, sifat ini merupakan sifat yang di benci Allah Swt serta hanya ada pada iblis dan syetan juga pada orang yang tidak beriman.

Untuk hal yang demikianlah maka oleh para guru tasawwuf sangat menekankan pengobatan penyakit bathin ini, jika ingin menjadi manusia yang beraqidah akhlak yang baik serta mendapat keridhaan dariNya, jika seseorang hamba betul – betul ikhlas dan rajin berdzikir pada wilayah ini dan beristiqamah, maka insya Allah Swt terbukalah rahasia gaib akan kebenaran dengan izin dan kehendakNya, dia mendapatkan ilham dan karunia daripadaNya, dan ini di katakan sunnah dan cara dzikirnya Nabi Musa, sebab hanya dengan akal dan pikiran bathin yang bersihlah yang dapat menerima karunia, taufik, hidayah dan ilham dari Allah Swt, hal demikianlah yang merupakan nur illahi terbit dari hati orang yang berdzikir, sehingga hatinya muhadharah (hadir) bersama Allah Swt.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 5, 2012 in Tasawuf

 

LATIFATUL RUH (Maqam Tingkat 2)

Image

Maqam ini adalah maqam kedua dalam kajian Thariqat An-Naqsyabandi jika seseorang mendalami pelajaran dzikir dalam ajaran tasawwuf atau sufi, maka jika seseorang telah berdzikir pada maqam sebelumnya, maka pada tempat inilah dzikir kepada Allah Swt yang kedua di sandarkan dengan makna adalah pembersihan rohani secara bertahap – tahap dan berbagai tingkatan pembersihan penyakit bathin.

Pembersihan rohani di sini maksudnya ialah mengobati seluruh penyakit bathin yang buruk pada diri manusia secara bertahap, jika seseorang hamba ingin menuju kepada khalikNya, sudah tentu penyakit bathin harus di obati terlebih dahulu, sebab jika seseorang hamba yang menuju kepada tuhannya tetapi masih ada penyakit bathinnya maka tiada akan dapat sampai (ma’rifat) kepada tuhannya, sebab Allah Swt adalah dzat yang Maha Suci.

Bathin pada manusia umumnya penuh dengan penyakit yang berupa kotoran – kotoran sifat madzmumah, artinya selalu di penuhi dengan penyakit bathin yang buruk, seperti ; iri hati, dengki, penghasut, loba, tamak, serakah, penipu alias munafik dan lain sebagainya yang sifatnya buruk, nah sifat buruk pada manusia ini harus di obati dulu sebelum dapat menuju kepada tuhannya, tiada akan semudah itu seseorang manusia akan dapat mengenal khalikNya tanpa bathinnya bersih dari sifat buruk tersebut.

Sifat buruk pada bathin manusia ini di wilayah ini adalah tamak, rakus dan bakhil yang menungganginya yaitu iblis dan syetan, pada diri bathin manusia para iblis dan syetan pada bidang penyakit ini rumah atau istana pada rabu jasmani manusia, untuk selalu membisikkan berbagai tipu daya dan hasut agar manusia selalu dalam kemaksiatan di bidang tamak, rakus dan bakhil, untuk menumpas keberadaan syetan ini maka lazimkanlah dzikrullah pada wilayah ini dengan senjata kalimah Allah…Allah…Allah…, dengan harapan para iblis dan syetan dapat tunggang langgang lari terbirit – birit dari rumah atau istananya tersebut dalam diri manusia, jika sudah demikian maka tentu sifat tersebut sudah jauh berkurang bahkan hilang sama sekali dari dalam diri bathinnya tersebut, yang tinggal hanyalah kalimah Allah saja yang menempatinya, hal demikianlah merupakan pintu dasar kedua menuju dan mendekatkan diri kepada Allah Swt serta dapat mengenalnya.

Maqam kedua dari cara berdzikirnya seorang hamba untuk mengobati penyakit bathin ini adalah di sebut dengan LATIFATUL RUH dengan pengertian yang di jabarkan dan di ajarkan ialah :

Maqam ini berhubungan dengan rabu pada jasmani dengan posisi maqamnya adalah dua jari di bawah susu sebelah kanan tubuh jasmani atau zahir, pada maqam ini menurut ketentuan jumlah dzikirnya sekurang – kurangnya 1000 kali dalam sehari semalam, maqam ini secara bathiniahnya pada manusia adalah wilayahnya dzikir Nabi Ibrahim As dan bercahaya merah secara ghaib, dan maqam ini berasal dari api.

Maqam ini adalah tempatnya sifat madzmumah (Buruk) pada bathin manusia adalah :

  1. Tamak;
  2. Rakus;
  3. Bakhil.

Jadi jika seorang hamba ingin dekat kepada Allah Swt, maka haruslah menghilangkan sifat buruk ini, jika secara terus menerus dan ikhlas dzikirnya pada maqam ini, maka masuklah dan berganti dengan sifat madzmudah (baik), yaitu :

Khana’ah dalam arti kata memadai ianya akan apa ada adanya yang telah di tentukan oleh Allah Swt akan dirinya di dunia ini.

Sifat buruk ini seperti, loba, tamak, rakus dan bakhil adalah salah satu sifat yang tidak di sukai oleh Allah Swt dan RasulNya, sifat bathiniah yang buruk seperti ini tidak ubahnya seperti binatang yang suka menurut akan hawa nafsunya, jadi dengan rajinnya mengobati sifat ini dengan dzikir pada maqam tersebut di atas adalah dapat berganti sifat yang di sukai Allah Swt dan RasulNya, seperti merasa selalu bersyukur dan menerima apa adanya yang telah di tetapkan oleh Allah Swt, usaha untuk merubah sifat ini adalah dengan cara yang wajar melalui dzikir kepada Allah Swt dengan seperti cara yang di ajarkan oleh ajaran Thariqat An- Naqsyabandi.

Hasil puncaknya pada dzikir ini adalah merasakan maqam fanafil ‘asma dan mati ma’nawi, artinya semua sifat keinsanan manusia telah lebur dan lenyap dan di ganti oleh sifat ketuhanan yang biasa di sandarkan kepada manusia, artinya fana dan menyadari akan sifat – sifat kebaikan Allah Swt, seperti sifat sayang, kasih, pemaaf dan lain sebagainya yang baik, hal ini ada pada manusia yang beriman dan di namakan dengan sifat fanafii’asma (fana akan nama Allah Swt).

Pendengaran dan penglihatan lahir menjadi hilang lenyap, yang tinggal hanyalah pendengaran bathin dan penglihatan bathin yang memancarkan nur illahi, yang terbit dari dalam hati yang dapat memancarkan ilham dari Allah Swt, merasakan akan mati ma’nawi, ini artinya pintu fana yang kedua dan di terima oleh seseorang berdzikir, ini merupakan hasil mujahadahnya dan merupakan rahmat dan karunia dari Allah Swt jika ikhlas dzikirnya.

Jika seseorang hamba tiada mau berdzikir pada wilayah ini, maka menurut kajian tasawwuf sangatlah susah untuk membuat seseorang hamba dapat sampai dan mengenal akan tuhannya, sebab dengan sifat loba, tamak, rakus dan bakhil ini selalu mengikut akan petunjuk atau bisikan dan sifat yang di benci Allah Swt serta hanya ada pada iblis dan syetan juga pada orang yang tidak beriman.

Untuk hal yang demikianlah maka oleh para guru tasawwuf sangat menekankan pengobatan penyakit bathin ini, jika ingin menjadi manusia yang beraqidah akhlak yang baik serta mendapat keridhaan dariNya, jika seseorang hamba betul – betul ikhlas dan rajin berdzikir pada wilayah ini dan beristiqamah, maka insya Allah Swt terbukalah rahasia gaib akan kebenaran dengan izin dan kehendakNya, dia mendapatkan ilham dan karunia daripadaNya, dan itu ini di katakan sunnah dan thariqatnya Nabi Ibrahim As, sebab dengan akal dan pikiran bathin yang bersihlah yang dapat menerima karunia, taufik, hidayah dan ilham dari Allah Swt, hal demikianlah yang merupakan nur illahi terbit dari hati orang yang berdzikir, sehingga hatinya muhadharoh (hadir) bersama Allah Swt. Mati ma’nawi juga merupakan lompatan dari pintu fana yang kedua, oleh sebab di terimanya dzikir seorang hamba oleh Allah Swt, dan ini merupakan hasil dari mujahadahnya (perjuangan) dan merupakan rahmat dan karunia dari Allah Swt.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 5, 2012 in Tasawuf